PMN COM –Selama puluhan tahun, narasi populer tentang pendirian Pertamina hampir selalu terpusat pada satu nama Ibnu Sutowo. Tokoh karismatik berlatar belakang dokter dan tentara itu memang tercatat sebagai Dirut pertama PN Pertamina. Namun, sejarah industri tidak hanya ditulis oleh seorang komandan, tetapi juga oleh para insinyur di belakang layar yang membuat mesin-mesin benar-benar berputar.
Salah satu nama terbesar yang sengaja atau tidak sengaja tersembunyi dalam bayang-bayang kemegahan Pertamina adalah Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Johannes Marcus Pattiasina.
Artikel ini tidak bertujuan untuk mendegradasi peran siapa pun, tetapi untuk mengembalikan proporsi sejarah. Inilah fakta otentik tentang bagaimana seorang putra Maluku menjadi jantung teknis yang menghidupkan PT Permina di masa-masa paling kritisnya.
Pada tahun 1957, ketika Pemerintah Indonesia menasionalisasi perusahaan minyak asing maka, lahirlah PN Permina. Namun, kelahiran ini tidak disertai dengan suara gemuruh mesin, melainkan erangan besi tua karatan dan dan nyaris mati.
Keadaan saat itu sangat memprihatinkan. Infrastruktur hancur. Kilang-kilang di Pangkalan Brandan, Plaju (Palembang), dan
Cepu dibiarkan rusak parah pasca aksi bumi hangus Belanda.
Tidak ada teknisi ahli, semua tenaga ahli Eropa pergi meninggalkan Indonesia. Sedikit sekali (bahkan belum ada) insinyur pribumi yang memiliki pengalaman mengoperasikan kilang modern.
Kekacauan keamanan, pemberontakan PRRI/Permesta dan ancaman separatis lainnya membuat lokasi-lokasi minyak menjadi medan perang. Secara sederhana,
PERMINA lahir dalam keadaan koma klinis. Ada badan hukum, ada direksi, tetapi tidak ada produksi.
Di sinilah peran seorang J.M. Pattiasina dimulai.
Siapa J.M. Pattiasina sebelum Permina?
Beliau adalah seorang teknisi minyak andalan yang pernah bekerja di BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij), perusahaan minyak Belanda di masa kolonial.
Di era pendudukan Jepang, ia adalah satu dari sedikit pribumi yang berani “bermain api” dengan teknologi minyak, bahkan berhasil memperbaiki kilang yang dihancurkan Belanda tanpa bantuan asing. Setelah kemerdekaan, ia direkrut menjadi perwira TNI dengan pangkat Mayor, dan bergabung dengan Kesatuan Zipur (Zeni Tempur), karena pemerintah tahu bahwa mengamankan kilang sama pentingnya dengan mengamankan medan perang.
Ketika Permina dibentuk, para petinggi negara (termasuk Ibnu Sutowo) menghadapi dilemma,
mereka punya legalitas dan stok pimpinan, tetapi tidak punya OTAK TEKNIS, tidak punya engineer yang bisa membaca blue print kilang, menghitung tekanan fluida, atau memulihkan instalasi katalitik yang kompleks.
Pattiasina adalah jawaban atas dilema itu.
Secara struktural, Pattiasina menjabat sebagai Direktur Teknik PN Permina dan kemudian menjadi Wakil Direktur Utama. Namun secara fungsional, ia adalah:
Perancang ulang industri minyak nasional.
Ia menyusun master plan rehabilitasi kilang. Bukan hanya memperbaiki yang rusak, tetapi mendesain ulang sistem aliran minyak dari hulu ke hilir menggunakan sumber daya lokal.
Beliau adalah pendidik generasi pertama insinyur minyak Indonesia. Karena tidak ada sekolah formal yang cukup, Pattiasina membuat SEKOLAH LAPANGAN di lokasi kilang. Ia mengajar para tentara Zipur dan pemuda desa untuk menjadi operator, mekanik, dan teknisi.
JM Pattiasina adalah Penjamin keamanan energi di tengah perang. Dalam kapasitasnya sebagai perwira TNI, ia menyusun sistem pertahanan untuk kilang.
Ia menerapkan prinsip defense in depth yang menempatkan pos-pos penyamaran di sekitar instalasi vital, menyembunyikan sumur-sumur strategis, dan memastikan produksi tidak berhenti meskipun di bawah tekanan pemberontakan.
Mari kita lihat fakta-fakta teknis yang membuktikan perannya:
Tantangan 1: Kilang Pangkalan Brandan (Sumatera Utara) lumpuh total.
Tindakan Pattiasina: Dengan tim kecil mantan pekerja BPM, ia memetakan kerusakan. Ia memutuskan untuk tidak mengimpor suku cadang dari luar negeri karena embargo ekonomi saat itu. Sebaliknya,
Sebaliknya, ia merancang substitusi lokal, gear pump dari bekas mesin kapal, boiler dari drum baja yang dimodifikasi, sistem kontrol manual dari katup bekas.
Hasilnya: Dalam waktu 6 bulan, kilang menyala kembali. Produksi mencapai 30% dari kapasitas desain, cukup untuk memenuhi kebutuhan logistik TNI dan masyarakat sekitar.
Tantangan 2, Kekurangan tenaga ahli teknik.
Tindakan Pattiasina: Menginisiasi program On-the-Job Training for Combat Engineers. Ia melatih prajurit Zipur untuk membaca diagram pipa, mengelas di bawah tekanan, dan memperbaiki pompa sentrifugal. Para prajurit ini kemudian menjadi tentara teknisi yang bisa bertempur sekaligus memperbaiki mesin.
Hasilnya luar biasa: Terbentuknya korps teknik minyak dalam tubuh TNI AD yang kemudian menjadi cikal bakal Pusat Peralatan Angkatan Darat (Puspalad) untuk urusan migas.
Tantangan 3 Ancaman sabotase dari kelompok separatis.
Tindakan Pattiasina: Merancang sistem redundansi operasional. Ia memastikan bahwa setiap fungsi penting kilang memiliki cadangan di lokasi yang berbeda. Jika satu pipa diledakkan, aliran bisa dialihkan ke jalur lain secara manual dalam hitungan menit.
Hasilnya spektakuler; Kilang tetap beroperasi meskipun terjadi beberapa kali aksi sabotase. Ini adalah prestasi teknik militer yang langka pada masanya.
Sebuah pertanyaan bagi kami semua, Mengapa Nama Pattiasina Tidak Setenar Ibnu Sutowo?
Pertanyaan ini penting untuk dijawab secara jujur dan netral. Ada beberapa alasan utama yaitu perbedaan tipologi kepemimpinan. Ibnu Sutowo adalah publik figur yang karismatik, ahli diplomasi, dan sangat terampil dalam membangun jaringan politik serta bisnis.
Ia adalah wajah Permina di hadapan presiden, parlemen, dan investor asing. Sedangkan JM Pattiasina adalah figur teknis yang introvert, lebih nyaman di lapangan daripada di ruang rapat. Baginya, kilang yang berasap lebih berarti daripada pidato yang menggelegar.
Sejarah perusahaan di Indonesia selama Orde Baru cenderung fokus pada tokoh-tokoh sentral yang dekat dengan kekuasaan.
Sementara peran para teknisi dan pelaksana lapangan sering diabaikan atau hanya disebut dalam catatan kaki. Namun, bagi sejarawan serta pakar ekonomi yang objektif, peran JM Pattiasina adalah pilar struktural yang tanpanya Permina tidak akan pernah lepas landas.
Warisan Abadi untuk Pertamina
Ketika PN Permina bergabung dengan PN Pertamin (hasil nasionalisasi perusahaan minyak asing lainnya) menjadi Pertamina pada tahun 1968, struktur teknis yang dibangun Pattiasina tetap dipertahankan. Standar operasional, pelatihan tenaga kerja, sistem keamanan kilang, semua itu masih berpijak pada fondasi yang ia letakkan di akhir 1950-an dan awal 1960-an.
Bahkan setelah Pattiasina pensiun dari militer dan dunia usaha, jejaknya tetap hidup:
Para insinyur senior Pertamina generasi 1970-an adalah murid-murid tidak langsung dari Pattiasina. Konsep ketahanan energi nasional yang sekarang sering didengung-dengungkan, sebenarnya telah
ia praktikkan setengah abad yang lalu yang menghasilkan minyak dari sumber daya sendiri, dengan tenaga sendiri, di tengah tekanan musuh.
Tulisan ini tidak bermaksud mengganti narasi “Pendiri Pertamina” dari satu nama ke nama lain.
Sejarah organisasi sebesar Pertamina tidak pernah dibangun oleh satu orang. Ada tim, ada kolektivitas, ada konteks politik dan ekonomi yang kompleks. Namun, jika kita berbicara tentang siapa yang secara teknis menghidupkan PT Permina di masa-masa awalnya yang paling kritis, maka jawabannya tidak bisa lain, Brigadir Jenderal TNI (Purn.) J.M. Pattiasina.
Ia bukan direktur utama. Ia tidak duduk di kursi empuk. Ia adalah otak di balik mesin, tangan yang memperbaiki denyut nadi perusahaan ketika hampir semua orang mengira Permina akan mati sebelum sempat hidup.
Untuk itu, rakyat Indonesia terutama anak muda Maluku, para insinyur nasional, dan seluruh keluarga besar Pertamina, wajib mengenang jasanya. Bukan dengan monumen yang megah, tetapi dengan memahami satu kebenaran sederhana. Kemandirian energi bangsa ini tidak lahir dari ruang rapat ber-AC.
Ia lahir dari keringat seorang putra Saparua yang tidak takut mengotori tangannya dengan minyak dan darah.
Dalam setiap tetes BBM yang kita konsumsi hari ini, mengalir juga setetes kisah tentang J.M. Pattiasina, seorang teknisi yang menjadi jenderal, seorang jenderal yang memilih bekerja di kilang daripada di istana. Itulah harga sesungguhnya dari kemerdekaan energi kita.(**)










