PMN COM –Pagi hari, 16 Desember 1817. Di lapangan depan Benteng Victoria, Kota Ambon, kerumunan rakyat Maluku berdiri dalam diam yang mencekam. Di hadapan mereka, empat tali tergantung di tiang eksekusi. Dan di antara keempat orang yang akan digantung hari itu, ada satu nama yang tidak akan pernah dilupakan sejarah Indonesia.
Thomas Matulessy…
Kapitan Pattimura…
Tapi Belanda tidak puas hanya dengan mencabut nyawanya. Mereka menjatuhkan hukuman tambahan yang dirancang khusus untuk menghancurkan semangat perlawanan: setelah Pattimura mati, jasadnya akan tetap tergantung di tiang gantungan dan dipertontonkan kepada seluruh rakyat. Sebuah pertunjukan kekuasaan yang kejam.
Tapi yang tidak diperhitungkan Belanda adalah bahwa pemandangan itu justru mengukir nama Pattimura semakin dalam ke dalam ingatan rakyat Maluku — dan bangsa Indonesia — untuk selamanya.
Siapa Thomas Matulessy?
Ia lahir pada 8 Juni 1783 di Haria, Pulau Saparua, Maluku Tengah, dari pasangan Frans Matulessy dan Fransina Silahoi. Sejak muda, Thomas sudah bersentuhan dengan dunia militer.
Ketika Inggris menguasai Maluku, ia bergabung dalam militer Inggris dan mendapat pangkat Sersan. Di sana ia belajar strategi perang, disiplin militer, dan cara mengorganisasi pasukan — ilmu yang kelak ia gunakan bukan untuk kepentingan penjajah, tapi untuk membebaskan bangsanya.
Ketika pada 25 Maret 1817 Belanda kembali menguasai Maluku dari tangan Inggris, harapan rakyat Maluku langsung padam. Mereka masih ingat betul bagaimana Belanda melalui VOC telah menyengsarakan mereka selama hampir dua abad: monopoli cengkih dan pala yang memiskinkan petani, Pelayaran Hongi yang brutal, kerja paksa tanpa upah, pajak yang mencekik, dan perlakuan sewenang-wenang yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Tidak ada pilihan lain. Rakyat Maluku harus bangkit.
Pada 7 Mei 1817, pertemuan besar digelar di Baileu Negeri Haria, Saparua. Seluruh tokoh perlawanan hadir. Dalam pertemuan itu, Thomas Matulessy dipilih secara aklamasi sebagai pemimpin perjuangan dan dikukuhkan dengan upacara adat sebagai Kapitan Besar — pemimpin tertinggi dalam struktur perang adat Maluku. Dari sinilah nama Kapitan Pattimura lahir dan bergema.
Delapan hari kemudian, pada 15 Mei 1817, pasukan Pattimura melancarkan serangan pertama. Target utama: Benteng Duurstede di Saparua. Serangan itu berhasil. Benteng direbut. Residen Saparua, Johannes Rudolf van den Berg, tewas dalam penyerangan. Seluruh Maluku bergolak.
Perlawanan kemudian menyebar seperti api. Di Nusa Laut, seorang pejuang perempuan muda bernama Christina Martha Tiahahu bangkit bersama ayahnya Paulus Tiahahu. Di Hitu, Ulupaha yang sudah berusia 80 tahun pun ikut angkat senjata. Di Pelau, benteng Hoorn berhasil direbut rakyat. Semangat perlawanan yang dipantik dari Saparua menjalar ke seluruh penjuru Kepulauan Maluku.
Belanda panik. Mereka mendatangkan armada kapal perang dari Batavia, menghujani Benteng Duurstede dengan meriam dari laut. Perlahan, satu per satu pos pertahanan rakyat Maluku jatuh. Pattimura beralih ke taktik perang gerilya, berpindah dari satu hutan ke hutan lain, terus membakar semangat perlawanan di mana pun ia singgah.
Tapi ada satu luka yang lebih dalam dari peluru Belanda: pengkhianatan.
Raja Booi dari Saparua membocorkan posisi dan strategi Pattimura kepada Belanda. Informasi itu menjadi kunci yang membuka celah pertahanan terakhir. Pada November 1817, Belanda melancarkan operasi besar-besaran. Kapitan Pattimura akhirnya tertangkap bersama Anthoni Rhebok, Said Perintah, dan Philip Latumahina.
Pengadilan kolonial Belanda hanya formalitas. Mereka sudah tahu hasilnya sebelum sidang dimulai. Keempat pemimpin perlawanan itu divonis mati.
Pagi 16 Desember 1817, mereka dibawa ke lapangan depan Benteng Victoria di Ambon. Sebelum tali dilingkarkan di lehernya, Pattimura masih sempat menyampaikan pesan terakhir kepada rakyat yang menyaksikan: jangan berhenti berjuang. Jangan tunduk pada ketidakadilan.
Lalu tali itu dikencangkan.
Dan jasad Kapitan Pattimura dibiarkan tergantung di sana — untuk dipertontonkan, untuk menakut-nakuti, untuk menghapus ingatan tentang perlawanan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Setiap mata yang memandang jasad itu menyimpan bara yang tidak padam.
Pada 6 November 1973, hampir 156 tahun setelah eksekusi itu, Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Thomas Matulessy. Namanya kini diabadikan sebagai nama universitas, bandar udara, jalan, hingga wajahnya pernah tercetak di uang kertas Rp1.000.
Belanda mengira dengan menggantungnya di depan rakyat, nama Pattimura akan mati. Mereka salah. Justru di tiang gantungan itulah, nama Thomas Matulessy menjadi abadi.(**)










